Selasa, 09 Februari 2010

Karakter Wilayah

Akhir-akhir ini, perencanaan di kantor sedang giat-giatnya membumikan sebuah model pemberdayaan pada pemerintah desa dalam pengelolaan pendidikan non formal dengan berbasiskan karakter wilayah tertentu. Daerah yang jadi bidikan adalah Jawa Barat, Banten, Bengkulu dan Lampung. Karakter wilayah ini sendiri berpijak pada variabel mata pencaharian dan ekologi (lingkungan). Wacana kemudian berkembang untuk mendatangkan fakar sosiologi, dan salah satu yang didatangkan adalah Drs. Budi Rajab,M.Si salah satu dosen Unpad Bandung. Kang Budi, begitu kami memanggilnya. Ia sejak awal menanyakan tentang mengapa karakter wilayah yang diangkat dalam sebuah pemberdayaan pada pemerintah desa khususnya dalam pengelolaan pendidikan non formal berbasis kewilayahan. Alasan utama adalah karena kedua karakter tersebut memiliki pengaruh kuat dalam menyibak sifat sebuah wilayah yang berdampak pada dukungan pembangunan desa sebagai sebuah wilayah di dalam proses pembangunan pendidikan. Karakter ekologi disini adalah gambaran ekosistem lingkungan seperti daerah bergunung, pesisir, dataran rendah yang didalamnya ada keunikan tertentu yang berpengaruh pada sosial budaya masyarakat, juga pada mata pencaharian masyarakat secara ekonomis. Jika suatu wilayah dilihat dari karakter mata pencaharian maka akan terlihat secara jelas jenis mata pencaharian seperti dibidang pertanian, perkebunan, pesisir dan industri (manufaktur). Bila suatu wilayah dilihat dari karakter ekologi dan mata pencaharian maka akan lebih mudah, beda lagi bila karakter dilihat dari sifat. sangat sulit dan njlimet. Terkait karakter diatas, kami menyimpulkan bahwa katakter dominan untuk wilayah-wilayah yang telah disebutkan diatas yaitu pesisir,pertanian, perkebunan dan industri. Lebih lanjut Kang Budi membedakan perkebunan memiliki dua kategori yaitu perkebunan kecil dan besar. Sifat perkebunan kecil biasanya luasnyanya terbatas, milik individu, sifat mobilitas pemiliknya relatif rendah. Sedangkan perkebunan besar dimiliki oleh pihak yang memiliki modal besar, sifat mobilitasnya relatif lebih tinggi, lahannya cenderung luas dan biasanya sudah ada sejak lama, jenis tanaman yang ditanamnya lebih monokultur dan jumlah pekerja yang banyak. Lihatlah perkebunan-perkebunan teh di Jawa Barat yang notabene dibuat sejak jaman kolonial dan luasnya hektaran. Beda lagi dengan industri kecil dan industri besar. Industri kecil bisanya milik sendiri (owners) dengan jumlah tenaga kerja relatif sedikit. Industri besar, masyarakat didalamnya sebagai labour, bukan pemilik (owners), waktu mereka sangat padat dengan mobilitas tinggi, sehingga waktu luang yang dimilikinyapun terbatas.
Lebih lanjut, Kang Budi memandang bahwa ada perbedaan masyarakat pesisir di pesisir pantai selatan Jawa Barat dengan pesisir pantai utara. Dilihat dari segi lingkungan pesisir pantai selatan merupakan pantai yang bergunung-gunung diselingi sawah-sawah dan sifat ombaknya besar. Tidak banyak nelayan yang berkategori sebagai nelayan. Nelayan dipantai selatan menangkap ikan hanya untuk keperluan makan saja, jumlah nelayan yang mengolah ikan untuk keperluan produksi juga relatif kecil jumlahnya sehingga nelayan disana juga ada yang sebagai petani. Beda dengan pesisir pantai utara yang cenderung secara tipologi wilayah merupakan daerah dataran rendah, ombaknya kecil dan ikan yang melimpah. Mata pencaharian penduduk mayoritas nelayan yang benar-benar nelayan yang menangkap ikan sebagai mata pencaharian.
Melihat peta wilayah sasaran secara keseluruhan , Kang Budi juga memberikan input bahwa daerah pesisir lebih banyak terdapat di Jawa (pantai utara), cilacap, indramayu, banyuwangi, Sulawesi, Sumatera utara (dengan pelabuhan besar Bagan si api-api). Banten dikategorikan sebagai wilayah industri besar, dan industri kecilnya hanya sedikit (meski kita mengenal emping melinjo bersumber dari Banten). Lampung dikategorikan sebagai daerah peladangan besar dan peladangan kecil, tetapi jumlah sawahnya juga relatif luas. Bengkulu memiliki wilayah perkebunan yang luas dan besar. Karet dan kopi sangat mendominasi, meskipun ada juga daerah perkebunan teh di sekitar daerah Kepahiang dengan teh hijaunya yang berorientasi ekspor. Masyarakat Bengkulu juga secara individu mereka memiliki kebon-kebon sendiri, milik sendiri yang dikelola secara mikro.
Maksud dari membumikan karakter wilayah dalam sebuah pemodelan disini yaitu memandang bahwa karakter wilayah memiliki pengaruh kuat dalam pengembangan wilayah secara mikro dan kemudian menjadi modal kuat dalam pemberdayaan wilayah secara makro dikemudian hari. Pengembangan wilayah ini berawal dari mengangkat model pendidikan yang berkarakter kewilayahan, sebab ada beberapa input bahwa masing-masing daerah memerlukan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Bukankah masing-masing daerah memiliki potensi, kebutuhan dan tagtangan dan keberagaman lingkungan? Dari sinilah semua paparan diatas berawal.

21 komentar

Assalamu'alaikum...
Apa kabar sis?Wah,jadi tahu nih wilayah-wilayah perkebunan di Indonesia.Thanks infonya ya sis..Moga Indonesia makin maju dan makmur.
Wassalam

assalammualaikum mbak... iya neh dah lama juga ga ke sini...

emang karakter suatu wilayah itu penting, biar bisa lebih dimaksimalkan lagi pemanfaatannya, yang di dekat laut untuk perikanan misalnya *sok teu* hehehehe... :D

bener sist, potensi setiap daerah memang berbeda2 sayangnya kebanyakan hasil dari potensi itu banyak yg disalurkan ke pusat atau dikorupsi :)

Ass,
ini pasti salah satu materi kuliah S2 nya ya mba?
:)
Wass,

mmm..manggut manggut aja deh.. nggak ngerti.. he..he..

assalamualaikum..
aisha : walaikum salam sis. alhamdulillah sehat.amin semoga saja ke depan semakin makmur negara ini.
yolliz : waalaikum salam juga buat yolliz.bener liz, setuju ah.
aulawi : semoga saja mulai berkurang bang korupsinya.
exort : hehehe..bukan bang. ini salah satu bahasan di perencanaan kantor sy untuk sebuah pemodelan program
ali masadi : trims dh datang mas.
salam

seorang analis geografi nih.....sayang bgt inet saya lemot sehingga beberapa teks ndak muncul........salam knal yah....

Salam kenal, kunjungan perdana.
Nice blog. Salam
ALRIS

Assalamu'alaikum mbak..
Wah, ini analisis geografis ya mbak? Hiks..enggak ngerti. Apa kabar mbak? Lama enggak berkunjung kemari..

artikel yang luar biasa. Mencerminkan oranya yang mempunyai wawasan yng luas..

Apa kbr neng rara, dah lm gak nmapak :)

assalamualaikum..'
aditya :ini analisa karakter wilayah dilihat dari variabel mata pencaharian dan ekologi. msh minimal sih bang..
alris : salam kenal juga. thanks dh dtg
ajeng : iya ajeng kemana aja. alhamdulillah baik
laksamana : mmmhh..jangan berlebihan ah..hahaha.trims
salam

Sip... pencerahan yg luar biasa, nambah lagi ni wawasan saya, makasih Neng

Mb rara...salam, wah pasti artikel ini sgt berhubungan dg seseorang yg mengabdi di lingkup pemerintahan..
kunjung balik..mks.

kekayaan indonesia yah.... banyak sekali karakternya

ooohhh....baru ngerti deh sekarang.....bagus deh.......edukatif

thanks mbak artikelnya.... memang dengan karakter wilayah yang berbeda tentu butuh penangannaan yang berbeda..

KARAKTER SETIAP WILAYAH BERPOTENSI UNTUK TERUS DIKELOLA AGAR BERKEMBANG PESAT.

lam kenal ajah dulu....

Blog walking.

Salam kenal.

Semoga sukses selalu menyertai sobat ku.

Terimakasih atas waktunya untuk berkunjung di rumah kecil ini. O ya, trims juga commentnya.
EmoticonEmoticon