Selasa, 01 November 2016

Kisah Sepenggal Halaman Belakang

Tags

Assalamualaikum, Wr. Wb. 
Alhamdulillah, dalam kurun waktu 7 bulan sejak Maret 2016 Saya meninggalkan rumah ini dan tidak sempat meninggalkan jejak keyboard yang Saya tekan  di halaman ini. Meski sesekali Saya kunjungi untuk melepas kangen saja. Seorang teman merindukan tulisan Saya katanya ..," hehehe..ke geer-aan..

Saya memiliki sepenggal halaman kecil dibelakang rumah. Tidak luas, jika di hitung dengan langkah kaki orang dewasa mungkin ada sekitar sepuluh  langkah kali empat langkah kaki saja. Namun , kebun kecil ini begitu berharga bagi saya sebagai pelepas penat. Benar kata orang tua dulu bilang bahwa apapun yang kamu tanam, kelak kamu akan menuainya. 
Halaman ini tidak hanya pelepas lelah saya bekerja tetapi sebagai tempat hidup beberapa pohon Talas Bogor yang dibawa mertua, pohon Markisa besar ( Markisa besar yang juga disebut giant markisa spesies Passiflora quadrangularis L yang berasal dari Brazilia )., pohon Pepaya, bawang daun, kunyit dan buah Pare. Pare merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, namun tidak banyak yang suka
karena rasanya pahit. Rasa pahit Pare, memang melekat, namun jika direbus dan jadi lalapan  ..hmmm sangat nikmat sekali. Tanaman ini tumbuh menjala, tidak membutuhkan penanganan yang khusus hanya harus rajin menyiram dan sesekali diberikan pupuk kandang. Pare sangat baik bagi tubuh untuk kesehata kulit dan rambut.
Memiliki sepetak kecil halaman belakang rumah yang hijau dengan rimbunnya daun talas, tanaman Pare yang menjalar menghitung jengkal demi jengkal pagar halaman membuat saya sekeluarga betah berlama-lama melihatnya. Bila sarapan kami sekeluarga berkumpul sambil berjemur menikmati hangatnya mentari pagi, sambil melepas si kecil yang berlarian bermain tanah.
Halaman rumah bersebrangan dengan hamparan sawah milih penduduk desa, jika musim panen tiba sawah yang menguning menghampar indah memanjakan mata. Petani, tua maupun muda bergembira memanen padi yang menguning, sebagian lagi bersenda gurau sambil mengusir pipit yang berterbangan kesana kemari. Ada perasaan kangen ketika meninggalkan kampung dalam seminggu untuk merengkuh rejeki di kota, dan ada perasaan sangat gembira ketika saya kembali ke pelukan keluarga tiap akhir pekan. menikmati halaman belakang, menghirup udara pagi sambil menyaksikan petani mengggarap sawahnya. 
Jika musim panen tiba, petani di kampung saya bekerja sampai larut malam. Biasanya mereka pulang sore lalu kembali ke sawah setelah Isya, menyelesaikan panennya yang tertunda. Hingga tak heran jika di belakang rumah pada malam hari jika musim panen padi, banyak petani yang masih bekerja. 
Memiliki rumah di desa dan tepi sawah, bagi saya sebuah harapan sejak kami menikah. Si manis membeli sepetak tanah tersebut dengan susah payah dan membiarkannya beberapa tahun tanpa ditanami padi. tapi kami tanami dengan palawija. Setelah dana pembangunan rumah terkumpul, kami mulai membangun rumah secara bertahap ( Episode "Membangun Rumah ", akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya).
Anak saya yang paling besar yang kini duduk di kelas Tiga SD selalu senang jika ada bunga buah Markisa besar yang mulai mekar. Ia selalu berseloroh untuk mengawinkannya. Istilah nya adalah membantu penyerbukan oleh manusia agar berbuah secara maksimal. Semua jenis markisa (pssiflora) termasuk penyerbuk silang dengan bantuan lebah madu, penyerbukan sendiri dapat berlangsung baik. Namun agar hasil panen maksimal, biasanya penyerbukan di bantu oleh manusia seperti halnya pad tanaman vanily. Daun markisa berkhasiat untuk peluruh air seni dan kencing nanah. Sedangkan buahnya bisa dicampur dengan sirup serta dimanfaatkan untuk obat penenang dan menghilangkan rasa nyeri (analgesik) dan memperkuat paru. Itu menurut yang empunya bibit pohon buah Markisa besar. 
Kini baru 4 buah Markisa yang sudah mulai tumbuh membesar, sebagian tidak sempat saya bantu penyerbukannya. Ke empat buah markisa tersebut sudah dinamai oleh anak saya. Apa nama masing-masing buah tersebut saya belum mengetahuinya dengan pasti.
Sepenggal halaman tersebut tidak hanya membuat saya selalu kangen untuk berada disekitarnya , tetapi menjadi bagian dari saya untuk membesarkan keluarga. Menyongsong masa depan yang lebih sempurna bersama mereka. 
Amin.
Bandung, awal Oktober 2016.









2 komentar

Terimakasih atas waktunya untuk berkunjung di rumah kecil ini. O ya, trims juga commentnya.
EmoticonEmoticon