
Sore yang terik dan panas, sambil menunggu mobil antar kota datang aku menegak minuman dingin pelepas dahaga disebuah toko kecil disudut terminal
Beberapa pengendara oplet berkumpul didekatku ngobrol ngalor ngidul seputar kehidupannya, ya kehidupan "merayu" penumpang untuk sebuah "setoran".
sekilas tertangkap olehku kehidupan mereka.
Pagi itu kami sama-sama terbangun
memanaskan mesin oplet sambil menghisap rokok sisa semalam
menancap gas memburu penumpang
saling menyalip ditikungan, menembus embun pagi yang terlambat datang
berteriak memutuskan urat leher untuk menyambung nyawa anak dan istri hari ini yang mungkin terputus setiap jam
Duduk bertahan diatas mesin oplet yang membakar bokong dan pinggang
rasanya panas bukan kepalang
memanaskan hati agar lapang dengan segelas kopi hitam yang disimpan di dasboard lampu depan
berteriak!... berebut! namun tetap saling merelakan jika keduluan dicegat penumpang
berdesakan menahan kantuk disela kemacetan, asap kendaraan dan bau keringat orang kebanyakan..
Bersabar "merayu" penumpang meski berhenti di tempat yang "dilarang"
"Bersabar" karena penumpang semakin berkurang karena kredit motor semakin gampang
Ya..penumpang berkurang, mereka lebih memilih membeli motor cicilan
daripada mencintai oplet kita yang setia mengantar mereka ke tujuan
Ah..hanya sebuah ungkapan tentang mereka yang aku lihat sekilas. Hanya sebuah pandangan sepihak saja dariku yang belum mengenal jauh kehidupan mereka.






