Kamis, 16 Juli 2009

Dari Mereka


Sore yang terik dan panas, sambil menunggu mobil antar kota datang aku menegak minuman dingin pelepas dahaga disebuah toko kecil disudut terminal
Beberapa pengendara oplet berkumpul didekatku ngobrol ngalor ngidul seputar kehidupannya, ya kehidupan "merayu" penumpang untuk sebuah "setoran".
sekilas tertangkap olehku kehidupan mereka.


Pagi itu kami sama-sama terbangun
memanaskan mesin oplet sambil menghisap rokok sisa semalam
menancap gas memburu penumpang
saling menyalip ditikungan, menembus embun pagi yang terlambat datang
berteriak memutuskan urat leher untuk menyambung nyawa anak dan istri hari ini yang mungkin terputus setiap jam
Duduk bertahan diatas mesin oplet yang membakar bokong dan pinggang
rasanya panas bukan kepalang
memanaskan hati agar lapang dengan segelas kopi hitam yang disimpan di dasboard lampu depan
berteriak!... berebut! namun tetap saling merelakan jika keduluan dicegat penumpang
berdesakan menahan kantuk disela kemacetan, asap kendaraan dan bau keringat orang kebanyakan..
Bersabar "merayu" penumpang meski berhenti di tempat yang "dilarang"
"Bersabar" karena penumpang semakin berkurang karena kredit motor semakin gampang
Ya..penumpang berkurang, mereka lebih memilih membeli motor cicilan
daripada mencintai oplet kita yang setia mengantar mereka ke tujuan

Ah..hanya sebuah ungkapan tentang mereka yang aku lihat sekilas. Hanya sebuah pandangan sepihak saja dariku yang belum mengenal jauh kehidupan mereka.

Selasa, 07 Juli 2009

Bisikan Syetan kah?


Tadi siang selepas makan siang, bersama teman sekerja seorang laki-laki, sebutlah Fardi namanya (nama samaran, ia tidak mau nama aslinya di sebutkan), saya minum kopi hangat melepas suntuk seharian di depan komputer.
Ada sedikit cerita seru dari Fardi tentang sebuah bisikan. Entah bisikan syetan atau bisikan manusia (istrinya). Begini ceritanya :
Saya awali dulu dari deskripsi keluarga Fardi.
Fardi, sudah 3 tahun menikah, tahun kedua ia punya anak laki-laki. Awalnya anak tersebut disusui Asi. Pada bulan ke 6, Asinya lepas dan berpindah ke susu formula. Sejak saat itu, Fardi sering membuatkan susu formula, jika anaknya menangis tengah malam. Dalam satu malam, Fardi membuatkan susu untuk anaknya sekitar 3 sampai 4 kali. sekitar jam 10 malam, jam 1 malam, jam 3 malam dan menjelang subuh. Oleh karena itu Fardi, sering bangun 4 kali dalam semalam untuk membuatkan susu,menyeduhnya bersama air hangat untuk anaknya. Mengapa Fardi yang menyeduhkan susu formula untuk anaknya, ya karena jika istrinya yang membuat maka si bayi akan terbangun sehingga istrinya perlu mengeloninya sebelum si anak mendapat susu formula yang dibuatkan Fardi.
Suatu malam, anak Fardi sedikit panas sehingga sering bangun dan memaksa Fardi menyeduh susu formula menjadi lebih sering. Menjelang sekitar jam 3 pagi, si anak bangun dan minta dibuatkan susu, fardi terbangun disela kantuknya yang tertahan. Setelah susu selesai, si anak minum susu dan tertidur pulas, begitu Fardi dan istrinya. Saking ngantuknya, Fardi dan Istrinya tertidur pulas sekali, hingga ia tidak mendengar seruan adzan subuh berkumandang.
jam 5 pagi mereka belum terbangun..
jam 5.30 juga, mereka masih tidur..
jam 5.45 masih tertidur pulas...
jam 6.00 istrinya terperanjat, " Bang..bangun..sudah hampir jam 6! kita belum shalat,"serunya. Abang dulu yang shalat, saya menunggu anak, dia masih terlelap, kita giliran shalat nanti.
Fardi, terbangun...Istrinya terlelap..
Ada bisikan, "bang tolong buatkan susu"
Fardi, bergegas membuat dan menyeduhkan susu, dari dalam kamar istrinya memanggil," Bang, sedang apa?",
,"menyeduh susu," seru Fardi.
,"lho..siapa yang nyuruh,"
,"kamu, kan, seru Fardi.
," tidak, aku tidak menyuruh membuatkan susu," anak kita kan masih tidur,"
Fardi masuk kamar, keduanya saling menyalahkan. Fardi merasa istrinya menyuruh membuatkan susu, sedangkan istrinya tidak merasa menyuruh. Keduanya bertatapan.
," Jelas sekali bu, kamu kan yang berbisik tadi ?,'
,'tidak bang, demi Allah," seru istrinya.
Keduanya saling bertatapan, siapakah yang berbisik tadi ?,
Adakah syetan yang berbisik hingga Fardi semakin terlambat menunaikan shalat subuh ?

Aku merenungi, pengalaman tersebut betul-betul membangkitkan suasana religius yang kental akan kekuasaan Allah dan bisikan syetan memang ada. Apalagi, menurut keterangan memang syetan suka membisikan sesuatu yang menyesatkan...
Pengalaman Fardi benar adanya, ia hingga bersumpah bahwa ia betulbetul mendengar bisikan tersebut dan begitu jelas. Aku menganggukinya sebagai sebuah pelajaran religi yang berarti.


Senin, 06 Juli 2009

Jamu Gendong

Bismillahirahmanirrahim,
Pagi tadi, jam 6.00 cuaca masih dingin menusuk tulang. Saya berniat membeli bubur ayam yang ada disekitar perumahan. Bubur ayam tersebut, cukup terkenal dan jadi tujuan beberapa ibu-ibu untuk membeli dan menikmatinya. Karena tempat ini jadi idola, kami menyebutnya "bubur ayam Idola", oleh karena itu tidak heran tempat ini cukup ramai dan kita perlu mengantri untuk membelinya.
Dalam proses menunggu giliran mendapat bubur, dipinggir jalan berjalan seorang tukang jamu. gendong. ,"Jamu..jamu..jamu,". Suatu pemandangan yang menarik adalah tukang jamu gendong tersebut bersama seorang anak kecil yang usianya sekitar 2 tahunan, sesekali anak itu digendong, sesekali ia berjalan dengan lincah mengikuti ibunya si penjual jamu. Tukang jamu tersebut usianya masih muda,b utiran peluhnya tampak menghiasi wajahnya, mewarnai kehidupannya yang belia yang harus berjuang menafkahi keluarganya mencari setetes rejeki Illahi. Tukang jamu gendong tersebut berjalan dengan beban berat ditubuhnya, sebelah kanan tubuhnya bergelayut bakul jamu yang penuh sesak botol-botol jamunya, sebelah kirinya bergelayut anaknya yang dalam ukuran dan pandanganku masih tergolong manja dan perlu belaian kemesraan sang Ibu. Begitu gigih ia, mencari rejeki meski beban berat dipikulnya, meski rasa malu harus ia buangnya jauh-jauh.
Sesaat tukang jamu gendong itu tidak terlihat karena berbelok ditikungan jalan.
Selesai memesan bubur ayam yang kubungkus, aku bergegas mencari si tukang jamu gendong tersebut. Tampak beberapa puluh langkah ia sedang jongkok melayani pembeli, anaknya yang kecil asyik bermain tanah di dekatnya. Ada perasaan haru yang begitu besar pada diriku, ungkapan salutku untuknya, atas perjuangannya, atas semangatnya untuk mencari rejeki dengan membawa anaknya. Bisa dibayangkan beberapa jam sebelum ia berangkat bekerja tentu sangatlah repot, nyiapin jamu-jamu untuk dijualnya, nyiapan makan anaknya, dan nyiapin kebutuhan lainnya...ah..
pemandangan ini memberikan sesuatu yang berharga padaku pagi itu. Semoga.

Kamis, 02 Juli 2009

Mengantar Ponakan

Bismillahirahmanirrahim,
Ponakan datang ke Bandung, ceritanya lagi liburan sekolah. Sengaja aja, ingin melihat Kota Kembang Paris van Java,menikmati kemacetannya dan sesaknya kendaraan kala musim liburan sekolah tiba.
Tempat pertama yang dikunjungi adalah musium Geologi Bandung. Sengaja di bawa ke tempat ini, untuk menambah pengetahauannya tentang kepurbakalaan.
Museum Geologi ini merupakan terletak di jalan Diponegoro. Dipandang dari sudut koleksinya, museum geologi ini merupakan salah satu museum terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Tercatat sekitar 250.000 contoh batuan dan mineral serta 60.000 fosil dari berbagai jenis dan umur. dari segi fungsinya museum ini mencakup sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi dan penyedia berbagai informasi tentang ilmu kebumian dan objek wisata. Sayang saya datangnya jam 15.00 dan 15.30 museum harus sudah tutup sehingga tidak bisa berlama-lama mengamati dan melihat koleksinya.
Di Museum ini juga di deskripsikan perkembangan asal muasal manusia menurut teori darwin, berikut beberapa fosil manusia purba yang ditemukan.
Setelah keluar dari Museum ini kami bergegas menuju ke Bonbin Bandung. Meski hanya setengah jam, kami berkeliling melihat-lihat koleksi binatang yang ada di kebun binatang ini. Ada sedikit perasaan miris ketika berkunjung ke tempat ini, menyaksikan harimau Sumatera Singa , gajah, siamang, beruang, buaya, hewan perkasa terbelenggu di dalam kandang. Keperkasaan mereka seolah sirna oleh kuatnya jeruji, mereka hanya bisa makan, tiduran, jalan-jalan sputar kandang, berjemur. Tapi tentu kesehatan mereka juga diperhatikan oleh pengelola. Memang bingung juga ya, bila binatang ini tidak disimpan di kebun binatang, mereka di hutan di buru, akhirnya punah dan anak cucu kita hanya melihatnya lewat gambar-gambar saja, tidak bisa melihat langsung. (Itulah salah satu fungsi kebun binatang, selain melindungi dan menjaga kelangsungan hidup mereka).
Tidak lama menengok penghuni rimba raya, kami menuju kawasan Cihampelas Bandung. Sesaknya kendaraan lalu lalang tidak menjadi hambatan, tetapi memberikan keleluasaan untuk menikmati sore di Bandung yang cerah. Kawasan Cihampelas terkenal sebagai tempat penjualan jins yang berkualitas dengan harga terjangkau, toko-tokonya unik, nyeni, nyentrik, kehadiran beberapa FO juga semakin menyemarakan kawasan ini. Kita bisa melihat patung-patung tokoh dunia seperti Rambo, Supermen, dan lainnya sebagai daya tarik untuk pengunjung pada toko-toko di kawasan Cihampelas.
Ga sempet ambil gbr. gbr ini dari bandung.petawisata.com
Sayang lahan parkir di daerah ini terbatas karena memang jalan utamanya tergolong kecil.
Setelah memilih beberapa jins yang cocok dan kaos oblong khas Bandung, kami istirahat dan makan. Aiihh lapar juga yah. Malam menjemput, suasana malam di kawasan Cihampelas begitu semarak, pantas saja wisatawan lokal asal Jabodetabek begitu kepincut datang ke tempat ini sebab Cihampelas memang memberikan pesona tersendiri.
Perjalanan ini diakhiri dengan mengunjungi Toko Buku Gramedia di jalan Merdeka. Melirik buku-buku yang betul-betul mengundang hasrat untuk membeli dan membacanya. Ilmu pengetahuan memang terus berkembang, orang-orang menuliskannnya dalam buku untuk dibagikan kepada orang lainnya.

smbr tambahan :
it-aria blogspot.com
suarakarya online

Rabu, 01 Juli 2009

Dimanakah Hujan Itu ?


"Dimanakah Hujan Itu ?"

Rasanya sudah lama "hujan" itu tidak turun
mengurai keindahan dan menebar pelangi indah untukku
Mengingatmu seperti mengingat seseorang yang "lama " kutinggalkan
meski kutahu engkau "masa laluku"


Ketika embun pagi itu turun,
Engkau tidak hadir bersamanya,
ketika malam datang engkau tidak kunjung juga muncul
ketika pagi menjemput,
Engkau tidak terlihat sama sekali,

Rasanya sudah lama hujan itu tidak turun,
"kemanakah hujan itu "?
Adakah engkau tertambat ke tempat lain?
Entahlah..

Penggalan puisi diatas, kubaca di buku kumpulan puisi yang sudah lama tersimpan. Aku tersenyum-senyum kecil ketika membacanya. Waktu kuliah dulu, aku suka puisi tersebut meski sederhana tapi selalu menyimpan sesuatu yang "greget" pada pikiran dan hatiku.
Kutulis kembali puisi ini, di rumah sederhana ini, untuk "hujanku" yang lama tidak bersua.
(deuuh..serius banget, apa aku seorang yang serius yah?)
Ga tau ah...

Kamis, 25 Juni 2009

Purna, dimana Engkau?


Bismillahirahmanirrahim,
Ketika itu, minggu pertama masuk SMA. Seorang siswa yang baru kukenal memandangku. Iiih seruku dalam hati...siapa engkau?,"
ternyata setelah dikumpulkan, aku kebagian satu kelas dengannya.
Namanya Purna (nama samaran) ... ah takdir Tuhan..
Sebelum masuk sekolah, semua siswa diwajibkan ikut pramuka dan berkemah. Aku paling enggan sebenarnya mengikuti kegiatan seperti itu, sebab terus terang aku tidak terbiasa berakrab-akrab ria dengan lingkungan luar, apalagi mesti menginap di tenda, bermalam di bawah rembulan yang temaram dan hujan rintik yang turun perlahan. berrrrr..dinginn..sis and bro...
Tempat tenda putri, dibatasi oleh beberapa utas tambang merah sebagai batas dengan tenda putra.
Kebetulan tenda tempatku menginap, dekat dengan tenda putra. Tendaku berseberangan dengan tenda Purna. Jaraknya sekitar 15 langkah.
Malam itu aku kebagian jaga pertama, jam 21.00 sampai 22.00 wib. Begitupun Purna, ia kebagian jaga pertama.
Purna tampak berdiam diri, memegang dahinya sambil tertunduk.
Aku menyapanya dengan hati-hati, " Hai..Purna?," Kebagian jaga juga ya ?,"
Ia terdiam. Kemudian mengangkat kepala yang sejak tadi tertunduk, butiran air matanya tampak jatuh perlahan menembus tanah bukit yang kering, seolah mengabarkan kesedihan yang tertahan kepada bumi.
Aku turut terdiam. Purna kemudian angkat bicara. Neng, kemungkinan besar aku hanya seminggu ikut sekolah ini, helanya sambil menahan nafas.
"Mengapa? seruku,"
," Adik,sakit keras dan butuh banyak uang untuk pengobatannya, sedangkan kedua orang tuaku termasuk orang yang tidak mampu, dan aku telah salah mengambil keputusan melanjutkan sekolah ini, seharusnya aku tidak melanjutkan sekolah,". Purna menjawabnya dengan tatapan kosong.
,"setelah kemah ini, aku mungkin mengundurkan diri meski aku tahu bapak dan emak tidak akan mengijinkannya,"
,' lebih baik membantu bapak dan emak mencari tambahan untuk mengobati adik,". Purna kembali menuturkan rasa penyesalannya,"
Sejak kegiatan kemah itu berakhir , aku tidak pernah melihat Purna lagi. Ia tidak menikmati indahnya mereguk pelajaran di sekolah, bergaul dan bercanda riang bersama anak-anak seusianya di sekolah.
Pertemuan itu hanya sesaat saja,menyisakan kenangan yang kurang mengenakkan sekaligus renungan bagiku. Purna meninggalkan sekolahnya, kasih sayang yang begitu besar pada adiknya memaksa ia meninggalkan sekolah. (mungkin ia belajar sendiri dari kehidupannya).
Purna,..dimana engkau?

Senin, 22 Juni 2009

Uni


Uni, Uni seorang perempuan. Ia seorang guru sekolah dasar, anaknya baru satu, perempuan. Minggu ini Uni lagi sibuk-sibuknya :
  • pertama : Nyiapin berbagai administrasi sekolah untuk menghadapi akreditasi sekolah mulai dari administrasi mengajar, administrasi perpustakaan, administrasi keuangan, memeriksa soal hasil ujian siswa-siswinya dan masih banyak lagi.
  • kedua : Nyiapin persiapan perpisahan kelas 6, pembagian rapot, tata panggung perpisahan, mengatur ruangan, mengatur undangan, memesan snack makanan, pembagian waktu untuk keluarganya dan menulis laporan penilaian bagi siswa (rapot).
Hari sabtu dan minggu kemarin, uni seharian di sekolah, nyiapin ini itu untuk keperluan tersebut. Ada orang datang, mengirim pakaian seragam batik untuk Uni, pakaian batik itu sudah disiapkan sebelumnya bagi acara perpisahan kelas 6. Uni lupa beberapa dokumen rapot (hasil penilaian siswa dan siswinya harus dibagikan) hari Seninnya belum tuntas ia kerjakan.
Malam senin, Uni menidurkan putrinya. Uni kecapaian, tertidur pulas sampai jam 10 malam. Rapotnya belum ia kerjakan, ketika terbangun ia bergegas mengerjakan rapot. Meski mata yang mengantuk dan badan yang lelah ia menulis rapot tersebut satu persatu. Di lihatnya nilai-nilai siswa dan siswinya yang beragam, ia tulis komentar dan saran-saran untuk perbaikan nilai siswa di komentar guru, ia analisa nilai rapot siswa-siswinya dengan teliti, " Tiba-tiba lampu mati, Uni menggerutu. Kenapa jam segini lampu mati ?, " serunya.
Terdengar jerit tangis putrinya terbangun karena lampu mati dan sadar bundanya tidak tidur disampingnya. Uni berlari menuju kamar, mendekap putrinya dan menidurkannya kembali.
Sementara rapot belum tuntas ia kerjakan. Uni menuju gudang dengan cahaya kecil di handphonenya, berniat mengambil lampu otomatis bertenaga baterai. Uni kembali berucap dengan rasa sesalnya, " ah..kemarin kan dipinjam bu Darti,".
Tak kehabisan akal, Uni menuju ke dapur mengambil lilin dan pemantik api.
Sayang, lilinnya habis.
Uni menulis rapot dengan cahaya kecil dari handphonenya.
30 menit ke depan, lampu menyala kembali. Uni bersorak gembira. Terima kasih Ya Allah.
Uni melanjutkan menulis rapotnya, angin malam menyertainya. Jam 3 dini hari pekerjaan itu selesai. Ia biarkan putinya tertidur pulas sendirian.
Tampak rasa gembira mewarnai wajahnya, sebab besok Uni akan melihat wajah-wajah yang lebih gembira pada siswa-siswinya. Tak lupa, Uni juga menyiapkan hadiah kecil untuk Andri juara kelas.
Adakah hadiah sederhana juga untuk Uni, dari kita ?
Meski kita tahu, tentu Uni tidak mengharapkannya.....